Implementasi PD dalam Pendidikan dan Rehabilitasi Gizi

penyampaian pesan kesehatan oleh kader, saat pelaksanaan pos gizi

Stunting adalah salah satu masalah kesehatan yang perlu menjadi sorotan. Perlu pelibatan masyarakat untuk mengetahui apa itu stunting, serta bersama-sama melakukan upaya pencegahan stunting.

Hal itu lah yang melatarbelakangi pelaksanaan Program Penguatan Kapasitas Layanan Posyandu yang dilaksanakan di Desa Sarirejo, Kecamatan Balen, Bojonegoro.

Untuk pencegahan stunting bisa dimulai dari remaja putri (calon Ibu)  agar tidak anemia dan ibu hamil tidak mengalami kekurangan energy, serta pentingnya pemantauan tumbuh kembang pada 1.000 hari pertama anak. Hitungan 1.000 hari dimulai sejak janin sampai anak berusia 2 tahun.

Pos gizi atau NERS (Nutrition Education and Rehabilitation Session) merupakan salah satu pelayanan posyandu yang dilakukan untuk mencegah stunting dan memperbaiki gizi anak.

Anak dibiasakan cuci tangan pakai sabun (CTPS)

Sejalan dengan itu, selama 10 hari, mulai 8 Februari sampai 17 Februari 2020 dilaksanakan Sesi Pendidikan dan Rehabilitasi Gizi (NERS) di Posyandu Bebet  1 Desa Sarirejo.

Sesi Pendidikan dan Rehabilitasi Gizi tersebut merupakan terapan dari hasil dilaksanakannya Pelatihan PD Hearth dan Penelitian Formatif PD yang diikuti oleh kader Posyandu desa Sarirejo pada akhir bulan Januari lalu.

Di Pos Bebet 1, ada 12 balita yang ikut pos gizi. Peserta pos berusia antara 6 bulan sampai 59 bulan. Dimana bahan makanan harus memenuhi karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Menu setiap porsi per anak harus mengandung 400-700 kalori dan 15-25 gram protein.

Bentuk kegiatan dari Sesi Pendidikan dan Rehabilitasi Gizi antara lain adalah adanya kontribusi atau saweran bahan makanan, dengan tujuan supaya ibu bisa mengingat bahan makanan yang menyehatkan anak di wilayah tersebut.

praktek memasak yang dilakukan oleh ibu balita di Pos Gizi Bebet 1

Dilakukannya memasak secara bergantian, dengan tujuan ibu dapat belajar cara memasak makanan yang sehat dan dapat mempraktekannya dirumah.

Cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebelum makan untuk belajar dan praktek perilaku baru supaya dapat menjadi kebiasaan. Kemudian ada pemberian camilan dengan tujuan merangsang nafsu makan anak.

Anak juga diajak bermain, supaya anak menjadi Aktif dan belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar. Selain itu ada pesan kesehatan yang disampaikan oleh kader,  dengan tujuan agar ibu dapat berbagi pengalaman dalam perawatan anak.

Selanjutnya menyuapi secara aktif, dilakukan agar ibu belajar sabar untuk menyuapi anak dengan tujuan agar anak dapat menghabiskan makanan.

Salah satu hal yang menarik adalah adanya tata tertib yang harus dipenuhi oleh para peserta, yaitu datang setiap hari selama 10 hari berturut-turut dan tepat waktu. Sebelum datang ke pos anak harus diberi makanan utama terlebih dahulu dan tidak diperbolehkan membawa jajanan dan susu.

Ibu balita memberikan makan sesuai dengan porsinya

Program Penguatan Kapasitas Layanan Posyandu difasilitasi oleh IDFoS (Institute Development of Society) Indonesia. Dan diprakarsai oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), bersama Pertamina EP Cepu dan Badan Kerja Sama PI Blok Cepu, atas persetujuan SKK Migas.

Sebarkan...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

IDFoS Indonesia © 2016 Frontier Theme
%d blogger menyukai ini: