Hal-hal yang Harus Kamu Waspadai Agar Sampah Masker Tidak Membahayakanmu

Oleh Devi Indriani dan Puput Cahyono

IDFoS Indonesia

Pandemi Covid-19 yang disebabkan oleh Virus corona sudah hampir 18 bulan melanda Indonesia. virus ini mulai masuk dan menjangkit masyarakat di Indonesia mulai dari awal bulan maret 2020. Berdasarkan data dari Worldometers (25/8/2021) jumlah kasus Covid-19 di dunia yang terkonfirmasi telah mencapai 214,194,825 kasus dan jumlah kematian mencapai 4,469,371 kasus sedangkan di Indonesia yang telah terkonfirmasi Covid-19 telah mencapai 4.026.837 kasus dan kematian sebanyak 129.293 kasus. Hal ini mendorong pemerintah memberlakukan PPKM Darurat di sebagian besar wilayah Indonesia, pemerintah mewajibkan masyarakat menjalankan protokol kesehatan ketat, salah satunya adalah penggunaan masker.

Sejak awal pandemi muncul kebiasan baru oleh masyarakat yaitu memakai masker dalam setiap kesempatan, bahkan di awal pandemi sempat terjadi kelangkaan masker. Di Masyarakat setidaknya ada 3 jenis masker yang sering digunakan yaitu masker medis, masker non medis dan masker kain yang biasa digunakan beberapa kali dengan perlakuan khusus. Namun penggunaan masker medis dan masker non medis sekali pakai (disposable mask) perlu mendapatkan perhatian khusus, karena sampah masker ini tergolong dalam sampah medis dan berpotensi mengandung bakteri infeksius. Kandungan bakteri infeksius ini berpotensi mengakibatkan penyebaran virus jika tidak ditangani secara tepat.

Mengutip dari Republika.co.id, Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Surabaya menyatakan dalam tiga bulan terakhir, rata-rata jumlah sampah rumah tangga berupa masker bekas mencapai 863,16 kilogram setiap bulan, sementara di Bojonegoro, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro menghasilkan limbah medis sebanyak 14,5 ton dalam kurun waktu sebulan (Tugujatim.id). Hal ini menjadi masalah baru di setiap daerah dalam penanganan sampah masker sekali pakai ini, pasalnya sampah masker ini tidak bisa di daur ulang secara langsung. Menurut penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa UIN Sunan Gunung Jati Bandung, penanganan limbah infeksius dengan tepat pada rumah tangga dapat dilakukan dengan langkah-langkah, pemilahan antara limbah domestik (limbah yang berasal dari kegiatan rumah tangga sehari-hari) dan limbah infeksius, pewadahan dan desinfeksi artinya sebelum sampah masker masuk dalam pewadahan sebaiknya di desinfektan terlebih  dahulu kemudian disobek untuk menghindari daur ulang , pelabelan untuk menandai sampah non infeksius dan infeksius, pengangkutan dan pengolahan akhir.

Harapannya masyarakat mempunyai kesadaran betapa bahayanya limbah masker apabila tidak ditangani dengan benar, kesadaran masyarakat bias dimulai dengan memilah sampah rumah tangga dan sampah masker ditempatkan pada wadah khusus. Pemerintah juga diharapkan lebih perhatian lagi terkait penanganan limbah masker ini, khususnya yang berasal dari limbah rumah tangga. Harus ada kampanye yang dilakukan kepada masyarakat bagaimana cara memperlakukan sampah masker ini agar tidak berbahaya bagi lingkungan.

Referensi :
1. Sampah Masker Bekas di Surabaya Sebulan 863 Kilogram | Republika Online
2. Sebulan, RSUD Sosodoro Bojonegoro Hasilkan 14,5 Ton Limbah Medis – Tugujatim.id
3. Worldometer. (2021). Covid-19 Coronavirus Pandemic. Retrived Agustus 25, 2021, From Worldometers: https://www. Worldometers.info/coronavirus/
4. Adi mulyana supriadi, ira ryski, eko prabowo & vina amalia. (2020). Penanganan limbah infeksius Rumah tangga pada masa pandemic Covid-19. Jurnal Ilmu kimia UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
http://digilib.uinsgd.ac.id/30736/1/KTI%20WFH%20Vina%20Amalia%2C%20dkk.pdf

Sebarkan...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

IDFoS Indonesia © 2021
%d blogger menyukai ini: