Sentuh Kesadaran Warga melalui Pemicuan

Suasana pendopo balai Desa Ngraho, Kecamatan Gayam pada Minggu (13/12/2015) cukup ramai. Pendopo dipenuhi oleh ibu-ibu maupun para bapak yang sedang asyik menggambar peta wilayah lingkungan tempat tinggal mereka dengan taburan tepung terigu.

Hal itu lantaran warga Desa Ngraho sedang mengikuti kegiatan Pemicuan yang diadakan oleh manajemen Program Aksi Sehat. Pemicuan merupakan salah satu kegiatan untuk mengubah perilaku buruk masyarakat dalam memperlakukan sampah.IDFoS. Program PAS

Salah satu kegiatan dalam Program Aksi Sehat ini adalah Pemicuan. Yaitu, sebuah metode untuk mengubah perilaku buruk masyarakat dalam membuang dan memperlakukan sampah. ”Dengan Pemicuan ini warga diajak untuk main-main seperti menggambar peta. Setelah itu warga diberikan ilustrasi tentang lalat, dengan tujuan akhirnya agar warga mau memilah sampah,” ungkap Manajer Program Aksi Sehat, A. Eko T.

Pemicuan di Desa Ngraho ini merupakan yang kedua, setelah sehari sebelumnya pemicuan juga dilakukan di Desa Sudu, Sabtu (12/12/2015). Pemicuan di Sudu juga diikuti oleh warga desa seperti Ibu-ibu, bapak-bapak, pemuda, dan anak-anak.

Pemicuan dimulai dengan mengajak warga untuk membentuk sebuah lingkaran dan diberikan permainan untuk mulai membangun suasana. Warga tampak antusias dalam mengikuti permainan tersebut. Suasana balai desa yang sebelumnya sepi menjadi riuh oleh teriakan warga selama mengikuti game.

Setelah permainan selesai, selanjutnya warga diminta menggambar peta lingkungan rumah mereka, dengan memberikan tanda tanda khusus di mana mereka membuang sampah. Rata-rata warga membuang sampah mereka di sungai, kali, dan belakang rumah.

Setelah menggambar peta, tim PHBS IDFoS masuk dan memberikan sebuah ilustrasi cara kotoran masuk di mulut kita. Yaitu, dengan mengibaratkan rambut yang diambil dari salah satu warga, lalu dicampur dengan sampah.

Rambut itu dimasukkan ke dalam gelas berisi air bersih. Selanjutnya, lead facilitator tim PHBS, Sais Sulithoh, meminta warga meminum air tersebut. Namun, tidak ada satu warga pun yang mau meminumnya.

“Ini cuma rambut, bu, satu helai. Nah, bagaimana jika lalat yang punya 6 kaki, tiba-tiba hinggap di makanan bapak atau ibu semua. Padahal, sebelumnya lalat tersebut baru saja hinggap di kotoran kotoran,” orasi yang dilontarkan oleh Sais Sulitoh.

Setelah diberikan ilustrasi tentang lalat, warga mulai dipicu dengan diberikan informasi terkait dampak buruk pengelolaan sampah yang tidak sehat. Dengan pendekatan seperti rasa takut, jijik, sakit dan lainnya.

Dalam pemicuan, warga juga diberikan informasi terkait pengelolaan sampah dengan cara memanfaatkan sampah, baik sampah organik maupun non organik.

Nah, ibu-ibu sampah yang ada di rumah nanti bisa dimanfaatkan. Misalnya, sampah organik seperti sisa sayuran bisa dimanfaatkan untuk pupuk. Selain itu sampah nonorganik seperti kresek, kertas bisa dibuat kerajinan tangan seperti tas ini,” ujar Saiis Sulithoh sambil menunjukkan tas hasil kerajinan dengan memanfaatkan sampah bekas kemasan kopi, snack, dan lainnya. ”Jadi ibu-ibu langkah pertama yang dilakukan adalah mulai memilah sampah,” lanjutnya.

Akhir dari kegiatan pemicuan, lead facilitator bertanya kepada warga yang siap untuk mulai memilah sampah. Dan meminta mereka untuk menuliskan nama, dan kapan mau memilah sampah. (iwd/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IDFoS Indonesia © 2016 Frontier Theme
%d bloggers like this: