Pelajaran dari Ibu-Ibu Kobis

Pelajaran dari Ibu-Ibu Kobis

Oleh: Dwi Arianti, Staf Divisi Riset dan TI

Menjadi staff publikasi di lembaga sosial memberikan pelajaran tersendiri bagi penulis. Berbagai kegiatan sosial yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat kerap diikuti. Meski tidak berperan langsung dalam kegiatan, namun penulis juga menyempatkan belajar sedikit sedikit terkait kegiatan di masing masing divisi.

Satu catatan yang terekam menarik adalah kala penulis mengikuti kegiatan pertemuan rutinan kelompok bisnis yang keren diucapkannya, Kobis. Kobis atau komunitas bisnis adalah sebuah wadah bagi wirausaha yang menjadi binaan IDFoS Indonesia, tepatnya di bawah koordinasi divisi pemberdayaan perempuan.

Asal muasalnya Kobis berangkat dari sebuah program pengurangan pengangguran melalui kewirauahaan yakni Gerakan Wirausaha Sukses Berdikari. Program tersebut terdiri dari beberapa kegitan. Dimulai dari seminar kewirausahaan dan juga pelatihan.

Nah, paska diberikan pelatihan bagaimana cara memulai bisnis, kelompok yang terdiri dari kurang lebih 14 orang tersebut sering mengadakan pertemuan untuk sekadar menyambung silaturahmi, yang akhirnya dengan difasilitasi oleh pendamping mereka mewadahi diri dalam sebuah komunitas. Pendamping di sini adalah fasilitator yang disediakan oleh IDFoS untuk memfasilitasi dan membantu para wirausaha binaan tersebut.

Waktu terus berjalan. Hingga saat terakhir pertemuan Kobis yang dilakanakan pada Selasa (19/7/2016), itu merupakan pertemuan yang kedelapan. Kobispun sudah berumur kurang lebih 8 bulan.

Yang menjadi catatan tersendiri bagi penulis adalah selama kurun waktu 8 bulan tanpa adanya kontrak tertulis mereka tetap aktif dan konsisten hadir disetiap pertemuan yang diadakan setiap bulannya

 

Arisan Rutin, Rekatkan Ikatan Sosial

Thomas Hobbes memandang, manusia mempunyai sifat dasar yang sama. Yakni, sama-sama memiliki keinginan atau kepentingan dan ketidaksukaan terhadap suatu hal. Keinginan dan kebutuhan yang sama menjadi latar belakang setiap orang bersama sama melakukan satu hal yang sama terkait dengan motif kepentingan yang sama. Hal tersebut adalah konsep kontrak sosial versi Hobes. Dan ini juga dilakukan oleh komunitas bisnis ini.

Nampak sesuai dengan teori kontrak sosial tersebut, tanpa sebuah embel – embel keuntungan secara pragmatis anggota kobis ini dengan sukarela datang dan mengikuti kegiatan,

Program kewirausahan yang telah berakhir tidak lantas mengakhiri kegiatan di antara pesertanya. Namun, memilih untuk menepi dan berorganisasi membentuk sebuah komunitas bisnis, dengan kepentingan yang sama untuk memperoleh pengetahuan yang baru soal bisnis.

Ketika salah seorang pendamping bertanya, apa motif teman-teman, kenapa masih terus aktif dan mengikuti kegiatan? Sontak beberapa menjawab, keingintahuan mereka untuk terus belajar terkait ilmu kewirausahaan untuk menunjang bisnis mereka.

Anggota Kobis ini rata-rata adalah ibu rumah tangga yang nyambi jadi wirausaha. Ada yang jualan krupuk, jualan nasi, jualan kerajinan tangan dan beberapa yang lain yang masih terus di provokasi untuk memulai usahanya.

Untuk terus menjaga keeratan dan eksistensi dari kelompok, mereka yang tergabung di kelompok ini secara sadar sepakat untuk membentuk Arisan Rutin. Arisan ini merupakan kosakata yang dalam kamus besar bahasa Indonesia atau KBBI berarti kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yang memperolehnya.

Tidak menyangka kegiatan yang dilakukan oleh mayoritas  ibu-ibu di berbagai tempat ini dapat menjadi kunci sukses pengorganisasian sebuah kelompok. Ya salah satunya kelompok bisnis ini. Melalui kegiatan arisan tersebut dapat disisipkan fungsi-fungsi pengedukasian kepada ibu rumah tangga yang merangkap juga jadi wirausaha tersebut, secara konsep proses pemberdayaan sedang berjalan.

Kalau penulis boleh sedikit mengomentari, mungkin 2 jempol ini kurang untuk memberikan pujian bagi ibu-ibu anggota kobis. Sebagai ibu rumah tangga, tugas sebagai IRT ditambah jualan, masih mau-maunya datang di acara yang kadang kala diisi dengan diskusi tersebut.

Ingat, cuma untuk menambah ilmu, silaturahmi. Padahal, penulis juga tahu rumahnya tersebar di Bojonegoro bagian barat, bagian timur, bagian selatan yang notabene lumayan jauh, yang tua saja mau terus belajar kenapa yang muda mau kalah? (*)

 

Updated: July 22, 2016 — 12:14 PM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IDFoS Indonesia © 2016 Frontier Theme
%d bloggers like this: