Pastikan Memilah, Pendamping dan Pengurus KRT Pisah Rajin Kunjungi Rumah Warga

KEGIATAN memilah sampah tidak sama halnya dengan membuang sampah biasa. Kegiatan tersebut belum begitu membudaya di masyarakat. Padahal, dengan memilah sampah kita ikut membantu mengurangi produksi sampah.

Dari pemilahan tersebut, ada berbagai jenis sampah yang bisa didaur ulang lagi maupun yang tidak bisa dimanfaatkan. Minimal dengan dipilah, volume sampah yang dihasilkan berkurang. Apalagi, jika rumah tangga-rumah tangga mulai menerapkan pemilahan, niscaya harapan memiliki lingkungan yang sehat dan bersih akan terwujud.

Upaya pengelolaan sampah rumah tangga itulah yang menjadi fokus dalam Program Akses Sanitasi Bersama Masyarakat (Aksi Sehat). Bekerja sama dengan operator minyak dan gas bumi, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), program yang dilaksanakan di empat desa tersebut hingga saat ini telah memasuki tahapan monitoring dan evaluasi.

Fokus utamanya adalah untuk melihat indikator- indikator dari target program yang tercapai. Empat lokasi program tersebut adalah Desa Ngraho, Sudu, Gayam, dan Mojodelik, semuanya masuk Kecamatan Gayam.

Salah satu indikator keberhasilan dalam program ini adalah adanya perubahan perilaku masyarakat tehadap pengelolaan sampah. salah satunya adalah dengan memilah sampah. Kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan oleh pendamping bersama pengurus KRT Pisah (Kelompok Rumah Tangga Pilah Sampah), dan pengurus KRT Pisah.

Mereka mengunjungi rumah warga satu persatu dengan total 100 rumah tangga di setiap desa. Masing-masing desa didampingi dua orang, yakni satu pendamping masyarakat dan satu pendamping kesehatan masyarakat.

Mereka bergiliran mengunjungi rumah warga di tiap desa dampingan. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui dan memastikan apakah warga sudah memiliah sampah dengan benar, sesuai dengan komitmen yang mereka buat bersama saat deklarasi KRT Pisah beberapa waktu yang lalu.

Kegiatan mengunjungi rumah warga berlangsung sudah berlangsung sejak seminggu lalu. Para pendamping mendokumentasikan kegiatan memilah sampah warga secara diam-diam, dengan tidak berkomunikasi dengan anggota KRT terlebih dahulu.

”Ini dilakukan untuk memastikan bahwa mereka benar-benar memilah dan tidak memilah pas sedang kami kunjungi saja,” ungkap Saiis Sulithoh, pendamping kesehatan masyarakat Desa Sudu dan Gayam.

Dari hasil monitoring yang dilakukan, diketahui belum semua rumah tangga di empat desa tersebut melakukan pemilahan sampah dari dua tempat sampah yang disediakan, yakni organik dan nonorganik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IDFoS Indonesia © 2016 Frontier Theme
%d bloggers like this: