OMS Sepakat Perlu Mapping Pelaksanaan SDG’s

Sesi diskusi FGD terkait SDG’s Kabupaten Bojonegoro

BOJONEGORO – Seiring dengan diterapkannya SDG’s di Indonesia, INFID dan IDFoS Indonesia bekerjasama untuk mendorong dilakukannya SDGs di Kabupaten Bojonegoro. Bupati Bojonegoro, Anna Mu’awanah pun merespons baik adanya SDG’s tersebut.

Usai dilaksanakan FGD terkait SDG’s hari pertama (27/09/18) bersama Bupati dan OPD kabupaten Bojonegoro, FGD dilanjutkan hari kedua pada Jum’at (28/09/2018) mulai pukul 10.00 sampai 15.30 WIB.

Masih dilaksanakan ditempat yang sama Co-Creating Room Gedung Pemkab Bojonegoro, namun dengan peserta yang berbeda, yakni dari unsur CSO/Ormas, Perguruan Tinggi, Media, dan Sektor swasta.

Di antaranya ada PC. NU Bojonegoro, PC. Fatayat Bojonegoro, Lakspedam NU Bojonegoro, PD. Aisyiyah Bojonegoro, LAZISNU, BI, Ademos, LPM, Komunitas Difabel, KPI, Inspektra, INFID, Migrant Care, Paguyuban Umat Beragama, Universitas Bojonegoro (Unigoro), Pertamina EP Cepu dan  Pertamina Aset IV Sukowati Field.

SDGs dirancang secara partisipatif berbeda dari pendahulunya yaitu Millenium Development Goals (MDGs), SDGs dirancang dengan melibatkan seluruh aktor pembangunan, baik itu Pemerintah, Civil Society Organization (CSO), sektor swasta, akademisi, dan sebagainya.

FGD tersebut diawali dengan pemaparan gambaran awal terkait SDG’s di aiandonesia oleh Yolandri dari INFID. Disela paparannya, Yolandri menyampaikan dari 156 negara yang mengadopsi SDG’s, Indonesia ada di urutan 99.

Capaian Indonesia tersebut sudah cukup baik dan yang baik pencapaiannya adalah goals 1 (tanpa kemiskinan), 4 (pendidikan berkualitas), 6 (air bersih dan sanitasi layak), 8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi), 12 (konsumsi dan produksi yang bertanggungjawab), 13 (penanganan perubahan iklim), 16 (perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh).

Kemudian dilanjutkan dengan paparan kedua terkait “Ruang Peran Masyarakat Dalam Pelaksanaan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan” oleh  Bambang Teguh Karyanto dari Project Officer Migrant CARE Jember.

Paparan terakhir yaitu terkait Perempuan dan SDG’s oleh Siti Khoirun Ni’mah (INFID). Sesuai dengan tema yang diusung yaitu “Penguatan kapasitas kepada CSO’s di Bojonegoro mengenai SDG’s dan mainstreaming gender di dalam mengawal SDG’s”.

Dalam hal ini mainstreaming gender merupakan hal yang penting. Dikarenakan banyak ketidaksetaraan yang dilakukan. Perempuan lebih banyak dirugikan contohnya seperti perwakinan anak; perempuan dalam partisipasi sekolah; perempuan dalam partisipasi kerja; perempuan dalam pengambilan keputusan, dan lain-lain

Ketidaksetaraan terjadi karena konstruksi sosial, kebijakan yang diskriminatif. Dalam hal ini SDGs bertujuan untuk mendorong kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Yang mana gender sendiri sudah tertera pada goals SDG’s yang ke 5 tentang Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender.

Setelah paparan, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi. Dari diskusi tersebut didapatkan kesimpulan bahwa agar SGD’s bisa terrealisasi  perlu adanya mapping (pemetaan) kegiatan OMS, kegiatan mana yang sedang sesuai dengan SDG’s; sosialisasi dan diseminasi SDG’s; perlu ada peningkatam kapasitas OMS; fasilitasi pelaksanaan program-program dan perlu bekerja bersama untuk ketercapaian SDG’s di Bojonegoro.

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro telah menunjukkan komitmen yang kuat dan mengambil tindakan awal, termasuk mengadopsi sebagian besar target dan indikator SDG’s ke dalam penyusunan rencana pembangunan jangka menengah Daerah (RJPMD).

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan.

SDG’s (Sustainable Development Goals) berisi 17 Tujuan, 169 Target dan 230 indikator yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030. (ika/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IDFoS Indonesia © 2016 Frontier Theme
%d bloggers like this: