Diskusi Reboan Arah Ketenagakerjaan

Pemaparan hasil riset ketenagakerjaan di Bojonegoro

BOJONEGORO – Kamis (19/07/2018), Divisi Ekonomi IDFoS Indonesia menyelenggarakan Diskusi Reboan yang bertempat di kantor IDFos Indonesia Jl Sersan Mulyono No 35 Kelurahan Klangon Bojonegoro. Diskusi mengusung tema “Arah Ketenagakerjaan Bojonegoro”.

Diskusi yang dipimpin oleh Rizal Zubad tersebut diikuti oleh 16 peserta dari berbagai lembaga. Di antaranya, Bojonegoro Institute, Ademos Indonesia, LSM Ploso Jenar, HARA, RAHYAT, Lakpesdam NU Bojonegoro, dan IDFoS Indonesia.

Diskusi bertujuan untuk menjaring masukan dari peserta mengenai arah pembangunan ekonomi dan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di Bojonegoro yang inline dengan perkembangan industri dan proyeksi beberapa tahun yang akan datang.

Sebagaimana diketahui bahwa Bojonegoro merupakan daerah dengan tingkat  kemiskinan tinggi. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bojonegoro hanya di angka 66.7, lebih rendah dari IPM Nasional yang angka rata-rata 70.2 (Katadata, 2017).

IPM Bojonegoro yang rendah mengindikasikan kualitas pekerjaan masyarakat tergolong rendah yang menyebabkan rendahnya pendapatan. Tingkat pendidikan masyarakat yang rendah juga menyebabkan akses terhadap pekerjaan yang berkualitas pun sulit.

Dinas Perindustrian dan Tenagakerja (Disperinaker) Bojonegoro mencatat jumlah pengangguran terbuka pada tahun 2015 ke 2016 mengalami kenaikan, dari 20.238 jiwa menjadi 23.320 jiwa (Disperinaker Bojonegoro, 2016).

Hal tersebut korelatif dengan tingkat pendidikan penduduk Bojonegoro usia 15 tahun ke atas yang didominasi oleh tamatan SD/Sederajat dengan prosentase 43 % (BPS Bojonegoro,2017). Di sisi lain, permintaan terhadap tenaga kerja mengalami kenaikan.

Rizal menyampaikan, dari beberapa hasil riset IDFoS Indonesia, ada beberapa fakta yang menarik. Yang pertama antara tahun 2016-2017 lalu ada perkembangan lapangan pekerjaan yang besar, namun tidak terlalu menyumbang penurunan tingkat pengagguran terbuka.

Angka pengangguran hanya turun 2,01 %. Sedangkan perkembangan  lapangan pekerjaan naik 10,46 %. Jadi, di tahun 2016-2017 tersebut banyak kebutuhan pekerjaan yang tidak dapat terisi oleh masyarakat Bojonegoro.

Artinya, ada penawaran dan permintaan dalam padat kerja namun tidak kohesif satu sama lain. Sehingga, dapat disimpulkan ada kelebihan lowongan pekerjaan.

Indikasinya adalah lowongan tersebut tidak terakses oleh para pencari kerja,  masyarakat  Bojonegoro  tidak terlalu  percaya dengan pemerintah dan banyak yang beranggapan bahwa pekerjaan sales (marketing)  adalah pekerjaan yang rendahan sehingga mereka malu untuk memilih pekerjaan tersebut.

Hal menarik lainya adalah peningkatan kebutuhan pekerjaan pada tahun 2017 disektor jasa, peningkatan sebanyak 72% dari tahun 2016.

Berdasarkan diskusi tersebut disimpulkan bahwa, yang pertama dalam penyelenggaraan pelatihan kerja perlu mempertimbangkan aspek-aspek seperti rencana analisis kebutuhan pelatihan, rencana evaluasi dan tindak lanjut pasca pelatihan dan adanya database tenaga kerja yang terpadu, valid dan realtime.

Kedua, proyeksi arah perkembangan pekerjaan di Bojonegoro 2-5 tahun ke depan berada pada jasa digital, mulai dari digital marketing, pelayanan digital, hingga pemrograman aplikasi digital.

Ketiga, tenaga kerja yang harus disiapkan adalah penyiapan mental pemuda Bojonegoro untuk bekerja (pelatihan untuk life skill dan soft skill) dan juga penyiapan kemampuan masyarakat Bojonegoro untuk menghadapi era digitalisasi usaha.

Yang terakhir, perlu adanya pengkajian rutin untuk menganalisa kondisi ekonomi dan kesiapan tenaga kerja Bojonegoro. (ika/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IDFoS Indonesia © 2016 Frontier Theme
%d bloggers like this: