14 Warga Ngumpakdalem Berkomitmen Memilah Sampah

BOJONEGORO – Kegiatan memilah sampah nampaknya belum begitu membumi. Kebanyakan warga belum banyak yang melakukan pemilahan sampah. Padahal, memilah sampah termasuk kegiatan penerapan pola hidup bersih dan sehat.

Selain itu, memilah sampah juga mengajarkan kita untuk memanfaatkan sampah yang masih bisa dimanfaatkan, karena sampah rumah tangga misalnya terdiri dari beberapa jenis seperti sampah organik, sampah non organik, dan sampah B3 (bahan berbahaya dan beracun).

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengubah kebiasaan masyarakat tidak memilah sampah tersebut, seperti penyuluhan. Dan terbaru adalah seperti dilakukan oleh tim persampahan Institute Development of Society (IDFoS) Indonesia.

Tim ini bagian dari Program Persampahan untuk Ekonomi Alternatif Masyarakat, kerja sama IDFoS dengen ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) di Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander.

Pada Sabtu, 19 September 2015, tim persampahan IDFoS bersama warga Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, khususnya RT 9 dan 10, melakukan kegiatan pemicuan. Yaitu, salah satu metode untuk mengubah perilaku masyarakat, khususnya dalam memilah sampah. Pemicuan dilaksanakan di halaman Masjid Baitussholihin desa setempat. Sekitar 60 warga berkumpul untuk mengikuti kegiatan tersebut.

DSC_0162

Warga menuliskan komitmennya untuk memilah sampah

Diawali sambutan dari Pokja Forum Kabupaten Sehat Desa Ngumpakdalem, dilanjutkan dengan kegiatan pemicuan yang diawali dengan menggambar denah RT 9 dan 10 beserta jalannya.

Setelah denah jadi, warga diberikan kertas untuk ditulisi namanya. Tujuannya adalah untuk menandai di mana rumah mereka dalam denah tersebut. Selain rumah, warga juga menandai di mana mereka membuang sampah, apakah di samping rumah, belakang atau tempat lain.

Setelah itu, tibalah kegiatan inti dari pemicuan. Fasilitator Tim PHBS Sais Sulithoh memberikan pertanyaan kepada warga. Pertanyaan berkisar tentang pola membuang sampah warga yang terdiri dari beberapa elemen kata sifat, seperti rasa malu, sakit, jijik, dosa, dan harga diri.

Misalnya, fasilitator melemparkan pertanyaan dengan elemen sakit, yang diibaratkan akibat dari lalat. Fasilitator memberikan contoh segelas air minum. Kemudian, meminta salah satu warga untuk meminum. Selanjutnya, ada warga yang meminum dan tidak ada masalah karena air tersebut bersih.

Hal berbeda dilakukan ketika ibaratnya lalat adalah rambut. Fasilitator memasukkan rambut ke dalam gelas yang berisi air dan meminta salah satu warga untuk meminum, dan ternyata tidak ada satupun warga yang mau meminum.

Seperti itulah kegiatan pemicuan yang dilakukan beberapa waktu lalu. Tujuan dari kegiatan itu antara lain untuk merubah kebiasaan warga yang tidak memilah sampah. Dengan tujuan setelah dilakukan pemicuan, ada warga yang sadar mau berubah dan berkomitmen memilah sampah.

Dari kegiatan tersebut, ada 14 warga di RT 9 dan 10 Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander yang berkomitmen memilah sampah, dengan menuliskan rencana kegiatan memilahnya dan kapan akan memulai untuk memilah. Diharapkan, 14 Tompas (tokoh masyarakat peduli sampah) itu menjadi motor yang akan menggerakkan warga lainnya memilah sampah. (iwd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

IDFoS Indonesia © 2016 Frontier Theme
%d bloggers like this: